Kamis, 09 Mei 2019

BERSERAH DALAM RENCANA ALLAH


                                                                                                             
                         BERSERAH DALAM RENCANA ALLAH

(Massorongan Tama Tanan penaanNa  Puang Matua)

Bacaan 1            : Kejadian 15:1-12

Bacaan 2           : Filipi 3:17-4:1

Bacaan 3           :Lukas 13:31-35 (Bahan Utama)

Pendahuluan
Sidang jemaat yang dikasihi Tuhan.....Marilah saya ajak kita sekalian sejenak untuk  berimajinasi.
Pertama, jika jalanan yang hendak Anda lalui berlubang dan rusak, apakah yang akan Anda lakukan? Apakah Anda akan tetap melaluinya atau menghindar dan mencari jalan yang lebih mulus dan lebih baik? Takut terjatuh
Kedua, jika pada suatu ketika Anda terpaksa dihadapkan dengan pilihan antara masuk mendaftar kerja dengan jalur umum yang mungkin penuh dengan banyak proses,tes atau apalah yang penuh kesengsaraan atau menggunakan jalan pintas tanpa mengikuti tes masuk—melalui uang sogokan atau uang pelicin, maka manakah yang Anda pilih? Tetap sengsara melalui prosesnya atau menggunakan jalan pintas? Karna takut tidak lolos.
Ketiga, manakah yang Anda pilih; memiliki pasangan yang sehat, cantik/ganteng, mapan,yang sesuai ekspektasi / harapan atau memiliki pasangan yang sakit-sakitan, buruk rupa, dan miskin pula? Tentu pilihan dijatuhkan kepada pasangan yang sesuai dengan harapan kita bukan?!
Namun, rangkaian perjalanan hidup tak dapat diduga....Bisa jadi pasangan yang semula sesuai dengan harapan kita, seketika berubah menjadi jauh lebih buruk; awalnya sehat dan menarik, kini menjadi sakit-sakitan dan lusuh.Semula langsing atau tegap dan penuh perhatian, kini menjadi gemuk, cuek dan cerewet. Nah, jika hal semacam itu terjadi, maka apakah yang Anda lakukan? Akankah Anda tetap setia atau lari menghindar dan mencari pasangan baru?
Isi
Hal-hal seperti inilah yang seringkali hadir dan menjadi ketakutan atau kekhawatiran tersendiri bagi kita, mengapa?? Karena Faktanya saudara-saudara yang sama dikasihi Tuhan, adalah tidak ada seorang pun yang akan memilih untuk mendapatkan hal yang buruk yang menyebabkan ketakutan di dalam hidupnya. Secara alamiah kitamemiliki kecenderungan untuk menghindar dari segala hal yang menyengsarakan dan tidak menyenangkan.
Di dalam kitab Kejadian, Tuhan Allah menjanjikan Abram untuk memiliki keturunan. Namun ketika janji Tuhan Allah tak kunjung terwujud, Abram tampak kehilangan kesabaran dan memilih untuk mencari jalan sendiri. Bagi seorang laki-laki yang hidup dalam konteks Mediterania, kondisi tanpa anak merupakan aib yang menyengsarakan dan sama sekali tak menyenangkan. Itulah alasan yang mendasari inisiatif Abram untuk mengambil Hagar, hamba istrinya, sebagai gundik yang melahirkan anak baginya. Abram berupaya menghindar dari hal yang tak menyenangkan. Ia berusaha lari dari penderitaan dan berinisiatif mencari jalan keluarnya sendiri. Selain itu,Abram juga dilanda keraguan. Semula ia percaya pada pimpinan Tuhan Allah yang mengajaknya keluar dari Ur-kasdim menuju tanah yang dijanjikan Tuhan, tetapi kemudian ia meragukan janji-Nya, “Ya Tuhan Allah, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak…,” demikian gugatnya.
sementara Di dalam Injil Lukas, hal yang berbeda diperlihatkan oleh Tuhan Yesus. Dikisahkan bahwa orang Farisi yang ingin mengusir Tuhan Yesus dari Yerusalem, memilih menggunakan logika teror dan menebar ancaman bahwa Tuhan Yesus akan dibunuh oleh Herodes, yang disebut-Nya sebagai sang serigala. Orang Farisi mengandaikan bahwa melalui teror yang mereka tebar, Tuhan Yesus pasti akan takut, dan memilih lari, menjauh, dan menghindar dari Yerusalem demi menyelamatkan diri. Akan tetapi yang terjadi ??
saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Ternyata justru sebaliknya. Tuhan Yesus yang telah memperlihatkan kesejatian identitas-Nya selaku Tuhan dalam Lukas 9:28-36,  justru menolak lari dan menghindar dari kesengsaraan. Tuhan Yesus menyatakan bahwa tujuan yang diemban-Nya justru terpenuhi ketika Ia mati di Yerusalem. Sang Mesias yang mulia justru harus menderita dan mati, sebab dengan merengkuh sengsara kematian, tujuan kedatangan-Nya yang diabdikan untuk menghidupkan dan menyelamatkan dunia dapat terpenuhi (ayat 32-33). Selaku warga kerajaan surga (Filipi 3), kita tidak bebas dari permasalahan, tantangan ketakutan. Sangat mungkin “serigala-serigala” dalam beragam bentuk datang untuk mencabik dan menorehkan luka yang menyengsarakan kehidupan kita. Status sebagai warga kerajaan surga tidak begitu saja membuat kita bebas dari keringkihan dan rasa tak-berdaya. Tuhan Yesus sang soter (Juruselamat) saja mengalami kematian di kayu salib,apalagi kita selaku anak-anak-Nya. Kita juga rentan tergolek lemah tak berdaya dan mengalami kekalahan saat diperhadapkan dengan bengisnya taring serigala. Akan tetapi saudara-saudara yang sama dikasihi Tuhan, mari kita belajar untuk tidak menghilangkan pengharapan. Kristus Yesus yang kita sembah, adalah pribadi yang kedaulatan-Nya mengatasi semuanya dan kuasa-Nya dapat menaklukkan segala sesuatu pada diri-Nya (ayat 21).Sehingga, manakala jalan yang terhampar di hadapan kita lekat dengan derita, dan penuh lubang derita, maka jangan pernah takut untuk menjalaninya.

Penutup
Saudara sidang Jemaat Tuhan, Tatkala pilihan untuk melakukan hal yang baik dan benar justru tampak menyengsarakan diri kita, tetap bertekunlah dan jangan melarikan diri darinya.Jangan sekadar mengikut hukum atau logika hasil rumusan manusia melainkan teguh dan berpeganglah pada kasih karunia serta janji keselamatan Allah Bapa di dalam Kristus Yesus (Filipi 4:1). ingatlah kisah Abraham, yang mengajarkan bahwa orang yang benar ialah orang yang menaruh dan mempercayakan masa depan rencana hidupnya secara total di dalam rancangan tangan kuasa Tuhan, walaupun segala sesuatu tampak gelap menakutkan dan tak terdapat kepastian sedikitpun, sebab semuanya indah pada waktu-Nya. Amin.

Saat Teduh
Ketakutan seringkali mengalahkan kebenaran, apalagi jika ketakutan itu disebabkan oleh penguasa yang bengis dan kejam, seperti herodes,. Yesus menunjukkan kepada kita bahwa kita tidak perlu takut terhadap kuasa. Ketakutan membuat kita tidak bisa melihat Tuhan dan sebaliknya bila kita melihat Tuhan kita tidak perlu takut. Semoga kita selalu melihat Tuhan yang berkarya sehingga kita tidak perlu merasa takut akan banyak hal yang ada disekitar kita.Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar